Saturday, September 4, 2010

Pelajari ilmu kekeluargaan..~ (2)


Kisah anak yang mencoret kereta ayahnya

Sepasang suami isteri - seperti pasangan lain di kota-kota besar meninggalkan anak-anak diasuh pembantu rumah sewaktu bekerja. Anak tunggal pasangan ini, kanak-kanak perempuan comel berusia tiga setengah tahun. Sendirian ia di rumah dan kerap kali dibiarkan pembantunya karena sibuk bekerja di dapur. Bermainlah dia bersama ayun-ayunan di atas buaian yang dibeli ayahnya, ataupun memetik bunga dan lain-lain di halaman rumahnya.


Suatu hari dia melihat sebatang paku karat. Dan ia pun mencoret lantai tempat mobil ayahnya diparkirkan, tetapi karena lantainya terbuat dari marmer maka coretan tidak kelihatan. Dicobanya lagi pada kereta baru ayahnya. Ya... karena kereta itu bewarna gelap, maka coretannya tampak jelas. Apalagi si anak ini pun membuat coretan sesuai dengan kreatifnya.

Hari itu ayah dan ibunya bermotor ke tempat kerja karena ingin menghindari kesesakan lalu lintas. Setelah sebelah kanan kereta sudah penuh coretan maka ia beralih ke sebelah kiri kereta. Dibuatnya gambar ibu dan ayahnya, gambarnya sendiri, lukisan ayam, kucing dan lain sebagainya mengikut imaginasinya. Kejadian itu berlangsung tanpa disadari oleh si pembantu rumah.

Saat pulang petang, terkejutlah pasangan suami istri itu melihat kereta yang baru setahun dibeli dengan bayaran ansuran yang masih lama lunasnya. Si ayah yang belum lagi masuk ke rumah ini pun terus menjerit, "Kerja siapa ini?!!!" . Pembantu rumah yang tersentak dengan jeritan itu berlari keluar. Dia juga beristighfar. Mukanya merah padam ketakutan lebih-lebih lagi melihat wajah bengis tuannya. Sekali lagi
diajukan pertanyaan keras kepadanya, dia terus mengatakan "Saya tidak tahu, tuan". "Kamu dirumah sepanjang hari, apa saja yg kau lakukan?" herdik si isteri lagi.

Si anak yang mendengar suara ayahnya, tiba-tiba berlari keluar dari kamarnya. Dengan penuh manja dia berkata "Dita yg membuat gambar itu ayahhh.. cantik ...kan!" katanya sambil memeluk ayahnya, bermanja seperti biasa. Si ayah yang sudah hilang kesabaran mengambil sebatang ranting kecil dari pohon di depan rumahnya, terus dipukulkannya berkali-kali di telapak tangan anaknya. Si anak yang tak mengerti apa-apa menangis
kesakitan, pedih sekaligus ketakutan. Puas memukul telapak tangan, si ayah memukul pula belakang tangan anaknya.

Sedangkan si ibu cuma mendiamkan saja, seolah merestui dan merasa puas dengan hukuman yang dikenakan. Pembantu rumah kebingungan, tak tahu harus berbuat apa. Si ayah cukup lama memukul-mukul tangan kanan dan kemudian ganti tangan kiri anaknya.
Setelah si ayah masuk ke rumah diikuti si ibu, pembantu rumah tersebut mengendong anak kecil itu, membawanya ke kamar.

Dia terperanjat melihat telapak tangan dan belakang tangan si anak kecil luka-luka dan berdarah. Pembantu rumah memandikan anak kecil itu. Sambil menyiramnya dengan air, dia ikut menangis. Anak kecil itu juga menjerit-jerit menahan pedih saat luka-lukanya itu terkena air. Lalu si pembantu rumah menidurkan anak kecil itu. Si ayah sengaja membiarkan anak itu tidur bersama pembantu rumah. Keesokan harinya, kedua belah tangan si anak bengkak. Pembantu rumah mengadu ke majikannya. "Sapukan ubat saja!" jawab si ayah.

Pulang dari kerja, dia tidak memperhatikan anak kecil itu yang menghabiskan waktu di kamar pembantu. Si ayah konon mahu memberi pengajaran pada anaknya. Tiga hari berlalu, si ayah tidak pernah menjenguk anaknya sementara si ibu juga begitu, meski setiap hari bertanya kepada pembantu rumah. "Dita demam, Bu", jawab pembantunya
ringkas. "Bagi minum panadol saja", jawab si ibu. Sebelum si ibu masuk kamar tidur dia menjenguk kamar pembantunya. Saat dilihat anaknya Dita dalam pelukan pembantu rumah, dia menutup lagi pintu kamar pembantunya.

Masuk hari keempat, pembantu rumah memberitahu tuannya bahwa suhu badan Dita terlalu panas. "Petang nanti kita bawa ke klinik.. Pukul 5.00 sudah siap" kata majikannya itu. Sampai saat si anak yang sudah lemah barulah dibawanya ke klinik. Doktor mengarahkan agar Dita dibawa ke hospital karena keadaannya sudah serius. Setelah beberapa hari dirawat di hospital, doktor memanggil ayah dan ibu Dita. "Tidak ada pilihan.." kata doktor tersebut yang mencadangkankan agar kedua tangan anak itu dipotong karena sakitnya sudah terlalu parah dan terkena jangkitan kuman. "Ini sudah
bernanah, untuk menyelamatkan nyawanya maka kedua tangannya harus dipotong dari siku ke bawah" kata doktor itu. Si ayah dan ibu bagaikan terkena halilintar mendengar kata-kata itu. Terasa dunia berhenti berputar, tapi apa yg dapat dikatakan lagi.

Si ibu meraung merangkul si anak. Dengan berat hati dan lelehan air mata isterinya, si ayah bergetar tangannya menandatangani surat persetujuan pembedahan. Keluar dari ruang bedah, selepas obat bius yang disuntikkan habis, si anak menangis kesakitan. Dia juga kehairanan melihat kedua tangannya berbalut kasa putih. Ditatapnya muka ayah dan ibunya. Kemudian ke wajah pembantu rumah. Dia mengerutkan dahi melihat mereka semua menangis. Dalam seksaan menahan sakit, si anak bersuara dalam linangan
air mata. "Ayah.. ibu... Dita tidak akan melakukannya lagi.... Dita tak mahu lagi ayah pukul. Dita tak mahu jahat lagi...Dita sayang ayah..sayang ibu", katanya berulang kali membuatkan si ibu gagal menahan rasa sedihnya. "Dita juga sayang Bik Narti.." katanya memandang wajah pembantu rumah, sekaligus membuat wanita itu menangis.

"Ayah..kembalikan tangan Dita. Untuk apa diambil..Dita janji takkan mengulanginya lagi! Bagaimana Dita mahu makan nanti? Bagaimana Dita mahu bermain nanti? Dita janji takkan mencoret-coret kereta lagi" katanya berulang-ulang. Terasa luluh hati si ibu mendengar kata-kata anaknya. Meraung-raung dia sekuat hati namun takdir yang sudah
terjadi tiada manusia dapat menahannya. Nasi sudah jadi bubur. Akhirnya si anak cantik itu meneruskan kehidupannya tanpa kedua tangan dan dia masih belum mengerti mengapa tangannya tetap harus dipotong meski sudah minta maaf...

Tahun demi tahun kedua orang tua itu menahan kepedihan dan kehancuran batin sampai satu saat si ayah tak kuat lagi menahan kepedihannya dan meninggal dunia diiringi tangis penyesalannya yang tak bertepi. Namun, si anak dengan segala keterbatasan dan kekurangannya itu tetap hidup tegar bahkan sangat sayang dan selalu merindukan ayahnya.


By: Abdul Aziz Ar-Ra'uuf (2 September 2010/ 6:40pm)
Forum Silaturahmi dan diskusi kehidupan dalam pandangan Islam


~ Didik sabar..Mampukah aku jadi seorang ibu yang baik nanti? ~

No comments:

Post a Comment